Strategi Baru FPK Purworejo: Dari Bank Data Etnis Hingga Rencana Produksi Film Guna Menuju Purworejo Lebih Harmonis

Strategi Baru FPK Purworejo: Dari Bank Data Etnis Hingga Rencana Produksi Film Guna Menuju Purworejo Lebih Harmonis

PURWOREJO – Kabupaten Purworejo sedang menyiapkan langkah besar untuk memetakan keberagaman suku dan etnis di wilayahnya. Bukan sekadar wacana, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Purworejo melalui Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Purworejo kini tengah berencana merancang "Bank Data dan Arsip Etnis" sebagai instrumen untuk menjaga kerukunan sekaligus memitigasi potensi gesekan sosial.

Gagasan segar ini mencuat dalam Rapat Koordinasi (Rakor) FPK yang berlangsung di Aula Kantor Kesbangpol Purworejo, Kamis (30/4/2026). Kepala Kesbangpol Purworejo, Puguh Triatmoko, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa keberadaan pangkalan data tersebut akan mempermudah pemetaan keberagaman di Purworejo agar masyarakat semakin guyub.

“Dengan data itu, kita bisa saling menjaga, terutama saat ada musibah. Harapannya, seluruh usulan ini bisa direalisasikan dan memberi dampak positif bagi semua suku di Purworejo,” ujar Puguh usai pertemuan.

Tak hanya soal data teknis, Puguh juga menyelipkan visi kreatif untuk memperkuat eksistensi forum. Ia memiliki mimpi personal untuk memproduksi film dokumenter atau layar lebar yang mengangkat tema keberagaman suku di Purworejo. Menurutnya, film adalah medium yang efektif untuk menyatukan masyarakat lintas generasi melalui hiburan yang edukatif.

Namun, FPK menyadari bahwa tantangan terberat saat ini adalah masalah popularitas. Masih banyak warga yang belum mengenal fungsi dan keberadaan forum ini. Menjawab tantangan tersebut, Sekretaris FPK Purworejo, Eileena Julianda Lyana, menegaskan bahwa mereka akan segera turun ke ruang publik, salah satunya melalui momentum Car Free Day (CFD).

“Kami akan memanfaatkan CFD untuk berdialog sekaligus menampilkan kekayaan budaya dari berbagai etnis yang ada di Purworejo. Ini adalah cara kami agar masyarakat lebih mengenal identitas budayanya sendiri,” jelas Eileena.

Lebih jauh, Eileena menambahkan bahwa rakor ini bertujuan membangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Selain sebagai ajang silaturahmi, FPK berfungsi sebagai sistem deteksi dini terhadap potensi konflik sosial berbasis kesukuan.

"Tujuannya jelas, menciptakan kondusivitas di Purworejo. Jika pembauran antarsuku meningkat, rasa persatuan dan cinta tanah air pun akan semakin kokoh," pungkasnya.

Pertemuan strategis ini diharapkan menjadi titik balik bagi FPK untuk lebih aktif dan nyata kontribusinya, baik dalam penataan internal organisasi maupun aksi nyata di tengah masyarakat. (imron/pwj.kt)